Set Primary menu by going to Appearance > Menus

Wawancara Di Kota Imaji

“Yak! Cepat saja interviewnya. Namamu, Nak?”

“Septa, Pak.”

“Hehhh.. Nama asli. Kau pikir ini kenalan di dunia maya?!”

“Memang Septa, Pak. Apa menurut Bapak ini terlihat seperti nama palsu?”

“Umur?”

“Dua satu, Pak.”

“Pekerjaan?”

“Mahasiswi, Pak.”

“Jenis kelamin?”

“Apa saya terlihat seperti laki-laki, Pak?”

“Alamat?”

“Di bawah ketiak langit, di kota imaji.”

“Status pernikahan?”

“Lajang, Pak.”

“Wahhh.. hatimu masih kosong, dong?” (dengan muka menjijikan dan kumis melengkung hitam yang kini terjungkir ke atas)

“Tidak, Pak.”

“Ah, baik.” (raut mukanya kesal) “Hobi?” (seolah kehilangan bahan pertanyaan)

“Ha? Apa itu berkaitan, Pak, dengan agenda hari ini?”

“Jawab saja!! Jangan banyak cengcong!”

“Mm… Hobi saya… Menulis sampai jari-jari saja terlepas. Saya biasa menulis di media apapun, handphone, Twitter, blog. Lalu, saya suka membaca, Pak, sampai mata saja bergulingan jatuh ke tanah. Saya suka…”

Belum kelar saya bicara, Bapak Tua Bangka dengan kumis hitam melengkung itu tenggelam dalam tidurnya.

2 Comments

  • els June 28, 2010 at 11:54 am

    lanjutin lg sep…i think this gonna be a great story. KOTA IMAJI.go agogogo!!! m/

    Reply
  • Septa Mellina June 28, 2010 at 5:29 pm

    thanks for blogwalking here :)tapi emang dari awal, ide ceritanya dibuat menggantung, Sa. Utk menyindir kaum bapak2 yang masih "lapar mata" kalau lihat perempuan muda. Terlepas pengalaman pribadi atau gak, tapi kenyataannya kan memang banyak yang demikian. Yet, thanks for the input 🙂

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: