Set Primary menu by going to Appearance > Menus
thought_telingamu penat_featured image

Telingamu Penat

Mungkin saya tidak ingat dengan pasti siapa dan kapan ia mengatakannya. Yang pasti pada sebuah kesempatan yang dirancang Tuhan dengan baik, ia berkata begini: “Lo tau kenapa kita punya dua telinga dan satu mulut? Supaya kita lebih banyak mendengar ketimbang ngomong.”

Ketika itu saya terperangah dibuatnya. Teman saya itu, entah siapa namanya, mampu membuat saya sadar bahwa apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran.

Waktu berlalu. Kami tumbuh dewasa. Belakangan saya pun tahu bahwa kalimat itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Banyak quote yang saya baca memuat pesan itu. Tak ada yang istimewa.

Tapi sebuah kejadian mengingatkan saya kembali pada perkataan teman saya beberapa tahun silam. Selama bertahun-tahun lamanya saya mengamini dan meyakini perkataannya. Namun tidak pada hari itu (setidaknya, mulai hari itu saya tidak meyakini sepenuhnya kebenaran kalimat itu).

Benar bahwa kita – kamu dan saya – perlu lebih banyak mendengar dibandingkan ngoceh. Mendengarkan dengan empati ketika orang lain membutuhkanmu. Yang ini, saya setuju. Siapapun ingin didengarkan. Mendengar membantumu untuk mengerti seluk-beluk pembicaraan. Ia menolongmu untuk memformulasikan kalimat saat kamu ingin merespon.

Namun mendengar pun sesekali membuat telingamu penat.

Ada waktu di mana kamu pun perlu menutupnya rapat-rapat dari pelbagai ocehan orang, terutama ketika kamu sedang dalam proses mencapai tujuanmu.

Karena perkataan mereka berpotensi membuat langkahmu goyah. Karena seringkali kata-kata mereka menyakitkanmu dan membuatmu putus asa. Karena, dalam banyak hal, mereka hanya mau didengar bukan mendengarkan kembali.

Saya mengalaminya beberapa hari lalu.  Rasanya seperti seseorang menjegal langkahmu. Entah disengaja atau tidak, yang pasti perkataannya membuatmu goyah. Seketika kamu ragu. Haruskah mengambil keputusan ini? Haruskah perjuangan dilanjutkan? Dst..dst.. Sampai akhirnya, tanpa sadar, sebenarnya kamu sedang membuka telinga lebar-lebar untuk sebuah perkataan yang ingin menjatuhkan rencana-rencanamu.

Jika yang dimaksud “mendengarkan lebih banyak” adalah hal ini, saya mundur. Saya tak lagi setuju.

Dalam sebuah kesempatan, seseorang pernah berkata demikian:

“Ibarat pelari yang sedang bertanding, matanya fokus mencapai garis finish. Kakinya berlari secepat mungkin untuk mencapai tujuannya. Di sekelilingnya, penonton riuh. Mereka berteriak-teriak. Ada yang memberi semangat, ada pula yang bersorak menjatuhkan semangat. Namun  Sang Pelari tetap berlari. Sekali ia menoleh ke tribun penonton, konsentrasinya bisa saja buyar. Langkahnya bisa saja gontai — gontai karena pujian, gontai karena cacian….”

Adalah sepenuhnya hakmu untuk menutup telinga dari perkataan yang membuyarkan fokus….

Maka tutup telingamu sebelum ia penat. Dan berlarilah mencapai garis finishmu!

2 Comments

  • theresiaregina September 9, 2011 at 6:03 pm

    Ada waktu di mana kamu pun perlu menutupnya rapat-rapat dari pelbagai ocehan orang, terutama ketika kamu sedang dalam proses mencapai tujuanmu. Karena perkataan mereka berpotensi membuat langkahmu goyah. Karena seringkali kata-kata mereka menyakitkanmu dan membuatmu putus asa. Karena, dalam banyak hal, mereka hanya mau didengar bukan mendengarkan kembali.
    Aku suka banget kalimat ini kakak….sering banget malah aku praktekin! Kadang dengerin omongan orang suka nyakitin dan malah bikin sesat,hihihihi :p

    Reply
    • Septa Mellina September 10, 2011 at 4:38 pm

      Hai Re,
      Makasih udah baca, comment, dan subscribe. i feel honored 😀
      Terus menulis ya :*

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: