Kita bertemu dalam suatu kesempatan. Kau tak melihatku. Aku yang melihatmu, sekali, dua kali, tiga kali. Sekelebat saja, namun terekam jelas. Kita bertemu kembali. Tanpa
Saya Malam.. Saya mencintai Siang. Kami tak pernah bertemu. Tak pernah bercerita. Tak pernah bertatap muka. Tapi saya mencintainya. Dia pun demikian. Saya Malam.. Saya
Aku mencintaimu. Sama seperti dulu, saat pertama kali bertemu, bertahun silam. Dengan porsi perasaan yang sama. Tak kurang, tak lebih. Tepat pada porsi yang demikian.
Tadi pagi, waktu matamu penuh embun, kukecup kedua kelopaknya. Kau tak bergerak, hanya sedikit bersuara manja. Inilah saat-saat yang paling kusuka. Tanganmu terjuntai ke atas.
Itu sebabnya aku tak terlalu menyukai perasaan ini. Karena dia mengganggu. Karena dia menguras separuh dari konsentrasiku. Manusia lain memujanya. Bukan berarti aku tak memujanya.
Aku ingin memelukmu malam ini, dengan sisa cinta yang masih tertinggal di piring tipis itu Aku ingin memelukmu malam ini, meski cinta itu tinggal remah-remah