Set Primary menu by going to Appearance > Menus

[Resensi Buku] Tujuh Kisah Sayap Patah: Cerita Cinta yang Tak Sepenuhnya Patah

Melihat seorang teman berkembang dan mewujudkan salah satu mimpinya adalah satu dari sekian banyak kebahagian dalam hidup. Sekali waktu, menyaksikan ia tumbuh begitu rupa dengan mimpi-mimpinya juga penanda betapa tahun-tahun yang kami lalui berjalan begitu cepat.

Dialah Dian Ismarani. Iyank, nampaknya ia lebih suka disapa demikian, adalah perempuan pecinta hujan yang, konon, telah pensiun menjadi peminum kopi. Saya mengenalnya di Aula Cervantes, pusat budaya Spanyol di sudut barat Jakarta. Kala itu, mimpinya untuk mengunjungi Barcelona begitu kuat.

Tetapi itu hanyalah kisah kami di awal usia 20-an. Lima tahun setelahnya, saya mendapati perempuan ini menerbitkan buku pertamanya secara mandiri di nulisbuku.com. Tujuh Kisah Sayap Patah, begitu judulnya.

2015-09-22-13-08-35_deco

Adalah antologi cerita pendek berisi tujuh kisah cinta yang muram. Muram sebab ia adalah gambaran bahwa cinta yang kuat saja tidaklah cukup untuk menjadi bahagia. Muram sebab isinya tak jauh-jauh dari cinta yang kandas. Beberapa kisah begitu akrab bagi saya meski tak mudah ditebak siapa empunya cerita.

Walau demikian, sesungguhnya bagi saya Tujuh Kisah Sayap Patah bukanlah kisah sayap yang betul-betul patah. Pribadi penulis yang riang, ringan dan optimis terlihat betul di setiap kisah. Bahwa dalam segala yang patah, tak punya daya dan payah sekali pun, seorang pecinta tetap memiliki harapan untuk hari esok.

Poin kedua, meski tema yang diangkat begitu umum, tetapi bacalah tiap ceritanya. Kamu seperti membaca karya kolaborasi beberapa penulis dengan gaya penulisan yang berbeda. Kadang Iyank menjadi pujangga yang begitu mahir bermain kata, membuat siapapun tunduk pada kekuatan rima dan keindahan diksinya.

Manusia kadang diperlakukan bagai komoditas oleh manusia lain. Kejam. Ironisnya, kita terkadang dijadikan komoditas oleh orang yang paling dekat dengan kita. Perasaan memiliki dan dimiliki yang keterlaluan. Membuat kita lupa bahwa sebenarnya kita milik Tuhan (Tujuh Kisah Sayap Patah, hal.126)

Terkadang, penulis menjadi sosok ringan, jenaka dan begitu urban. Tentunya, ini keunikan yang paling saya sukai. Harus diakui, penulis memang pandai bermain peran dan kata.

2015-09-22-13-04-47_deco

Namun, Tujuh Kisah Sayap Patah bukan soal permainan kata atau antologi kekecewaan. Bacalah dan biarkan sayap patah itu perlahan membawamu terbang ke perjalanan hidup yang lebih tinggi: keikhlasan.

2 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: