Kembali Menulis

Hai, halo.

Rasanya sudah lama sekali tidak menulis di sini. Pos terakhir saya buat di musim semi 2019 saat saya dan N (suami saya) masih tinggal di South Bend, Indiana. Saya ingat betul, saya mengetik draf tulisan di taman, duduk diam di kursi bebatuan. Udara hari itu terasa lebih hangat selepas musim salju. Sesekali ada tupai mendekat. Ia lalu berlari menjauh saat saya menyapa.

Itulah kali terakhir saya menulis di laman blog ini.

Lima tahun berlalu dan saya tidak pernah menulis di sini lagi. Mungkin saya terlalu sibuk dengan yang lain, atau mungkin sengaja tidak menyempatkan waktu untuk menulis. Sesekali, saya masih menulis di jurnal pribadi. Tapi rasanya tentu berbeda dengan menulis di blog ini.

Tapi, jika kamu pernah di sini dan masih setia membaca blog ini: terima kasih sudah bersabar menunggu. Terima kasih sudah setia membaca. Mungkin, sesekali kamu membuka blog ini dan tidak mendapati tulisan baru. Lalu kamu kembali lagi membuka blog ini selang beberapa waktu. Masih tak ada tulisan baru. Begitu seterusnya sampai, mungkin, kamu bertanya-tanya. Mungkin juga, kamu berlalu dan melupakan blog ini (hal yang sungguh wajar).

Jika kamu baru menemukan blog ini, entah bagaimana caranya: selamat datang, terima kasih sudah berkunjung dan selamat membaca.


Lima tahun tak menulis, blog ini sesungguhnya masih ada. Ia tak mati. Saya hanya sibuk dengan berbagai pikiran-pikiran dan rencana hidup. Karena, ternyata, menjalani hidup pasca menikah dan berkali-kali berpindah tempat bukan hal yang mudah.

Banyak yang terjadi di lima tahun belakangan:

Saya kehilangan Ibu di awal September 2020, 23 hari jelang ulang tahun saya yang ke-32 tahun. Itu jadi hari terburuk buat saya. Selang beberapa bulan, saya mengandung dan melahirkan anak pertama. Kami lalu menamainya Bernadette.

Kami juga sempat berpindah tempat: dari Jakarta ke South Bend, Indiana, USA; kemudian ke Konstanz, Jerman, lalu kembali pulang ke Jakarta. Kami sempat menetap di tanah air beberapa bulan, lalu akhirnya kami tinggal di Singapura di awal tahun 2022.

Saat pandemi, kami melihat bagaimana rak-rak supermarket di area tempat kami tinggal di Indiana mendadak kosong. Kami melihat orang-orang di belahan dunia lain mencoba bertahan di tengah segala ketidakpastian. Bagaimana mereka begitu lelah, tapi tak pernah kehilangan harapan. Mungkin semuanya akan membaik esok hari, begitu kata mereka.

Di tengah segala rencana hidup, ketakutan, ketidakpastian, dan pertanyaan soal masa depan di tengah pandemi, saya justru mulai menjauh dari aktivitas menulis. Sesekali saya masih membaca buku untuk melepas kepenatan. Tapi saya lebih sering membeli buku ketimbang membacanya. Koleksi buku pun menumpuk di sudut ruangan.

Mungkin seharusnya saya tetap menulis agar pikiran-pikiran bisa terurai dan rasa takut tak hanya tersimpan di dalam gelap. Mungkin, saat kita semua terkurung di tempat masing-masing adalah masa yang tepat untuk menulis. Mungkin, menulis bisa menjadi kawan terbaik saat kawan sesungguhnya terpisah jarak. Tak mampu memeluk meski ia sudah berada di ujung laman rumah. Tak mampu bercerita tentang betapa menakutkan dan sepinya hidup menjaga jarak. Mungkin menulis bisa jadi kado terbaik untuk mereka yang terasa begitu jauh.

Tapi, sialnya, saya tak menulis.

Waktu berlalu. Musim berganti. Selain ibu, saya juga kehilangan beberapa orang terkasih. Ada yang berpulang ke Empunya kehidupan, ada yang berpindah tempat. Beberapa sahabat dan kawan pulang ke negara masing-masing agar berdekatan dengan keluarga mereka. Beberapa kawan berpindah tempat karena pekerjaan. Alangkah sepinya saat itu.

Saya semakin menua dan masih tak menulis, tetapi saya merangkai cerita-cerita, kalimat demi kalimat, di dalam kepala saya. Cerita-cerita yang tak pernah tertulis. Cerita yang tersimpan dan tak diketahui siapapun. Cerita-cerita yang saya sendiri pun tak ingat betul bagaimana ujungnya.

Lama-kelamaan saya mulai lelah dengan cerita-cerita di kepala yang tak tuntas. Kalimat yang terpotong, yang tak pernah tertuang menjadi paragraf utuh untuk dibaca.

Saya rindu melihat ekspresi N saat membaca tulisan saya. Biasanya saya duduk tepat di seberangnya, memperhatikan tiap guratan dan emosi di wajahnya saat membaca. Kadang ia tersenyum, kadang tak ada ekspresi sama sekali. Ia selalu jadi pembaca pertama tulisan-tulisan saya, meski saya seringkali enggan berbagi karena merasa tulisan saya tak cukup baik. Tapi N, dengan santainya akan bilang, “Sini aku baca.”

Setelah ia selesai membaca, saya selalu ingin bertanya soal pendapatnya. Kadang dia bilang tulisan saya bagus. Di lain waktu dia bilang, “Kamu berbakat menulis” atau “Tulisanmu mengalir”. Biasanya saya membalasnya dengan senyum lebar. N tahu saya begitu bahagia. Dia juga demikian.

Selain soal N, saya juga rindu duduk diam, mengetik draf tulisan sembari meneguk kopi dan memainkan lagu yang itu-itu saja sepanjang hari. Ini adalah waktu-waktu berharga yang membuat saya mendengar segala pikiran dan ketakutan saya. Menulis memberikan ruang untuk pikiran dan ketakutan. Mungkin membiarkan mereka bergerak sejenak lebih baik daripada mengurung dan membunuhnya diam-diam. Karena pikiran dan ketakutan adalah bagian diri. Ia butuh didengar dan didekap.

Jadi, saya akan tetap di sini dan membiarkan bagian diri saya tertulis dan terbaca perlahan. Biarlah laman ini jadi ruang bercerita untuk tiap ketakutan, pikiran, mimpi, dan harapan.


Photo by Aline Viana Prado

No Comments

Leave a Reply